Jurnal Penataan Ruang https://journal.its.ac.id/index.php/jpr Jurnal Penataan Ruang en-US Jurnal Penataan Ruang 1907-4972 Policy Recommendation for Industrial Area Development based on Environment Carrying Capacity in The Northern Coast of Tuban, Indonesia https://journal.its.ac.id/index.php/jpr/article/view/4233 <p>The development of industrial areas is one of the main strategies in supporting national economic growth but also has various impacts that need to be managed carefully. This study focuses on the analysis of the development of industrial areas on the coast of Tuban and its impacts on the environment, infrastructure, and local economy. This study also explores the harmony of land and coastal land use, which is an important factor in ensuring sustainable and integrated development. This study analyzes the development of coastal industrial areas in Tuban and its impacts on the environment, infrastructure, and local economy. The focus is the integration of land and coastal land use to support sustainable development. Through a spatial analysis approach, literature review, and stakeholder interviews, it was found that coastal area development has the potential to cause ecosystem degradation, increased disaster risk, and pollution. Other challenges include infrastructure needs, minimal local economic growth (PAD) and limited skills of the local workforce. This study recommends spatial planning policies, environmental management, and inclusive economic programs to ensure equitable and sustainable development in the coastal area of Tuban.</p> Eko Budi Santoso Raga Bagas Pratama Nabila Azzahra Tiara Diska Amrih Eka Pratiwi Copyright (c) 2025 Jurnal Penataan Ruang 2025-11-30 2025-11-30 20 2 109 122 10.12962/j2716179X.v20i2.4233 Penentuan Faktor-Faktor Pendukung Pengembangan Potensi Wisata Bahari Sebagai Kawasan Minawisata di Pantai Pancer Kabupaten Banyuwangi Menggunakan Fuzzy Delphi Method https://journal.its.ac.id/index.php/jpr/article/view/8770 <p>Pantai Pancer merupakan salah satu destinasi wisata bahari di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki potensi pada sektor perikanan dan pariwisata. Dimana daya tarik wisatanya berupa panorama alam dengan pasir putih dan ombak ideal untuk selancar. Di sisi lainnya, Pantai Pancer termasuk penghasil ikan kedua terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Meskipun potensi perikanan dan pariwisatanya unggul, kesejahteraan masyarakat sekitar masih belum meningkat. Hal ini dikarenakan ketergantungan dari masyarakat terkait perikanan masih sangat tinggi terhadap musim dan cuaca sehingga pendapatan mereka belum stabil. Selain itu, pengelolaan wisatanya belum dilakukan secara optimal yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawannya tidak sebesar di Pantai Pulau Merah meski berada di jalur yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor pendukung dalam pengembangan potensi wisata bahari sebagai kawasan minawisata di Pantai Pancer sebagai upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Penentuan faktor-faktor pendukung dilakukan melalui analisis Fuzzy Delphi Method (FDM) dari hasil kuesioner penilaian key stakeholder dengan skala 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 17 faktor pendukung dalam pengembangan potensi wisata bahari sebagai kawasan minawisata di Pantai Pancer.</p> Al Hanuf Puspitasari Hertiari Idajati Copyright (c) 2025 Jurnal Penataan Ruang 2025-11-30 2025-11-30 20 2 123 134 10.12962/j2716179X.v20i2.8770 Navigating Land Conflicts: Indigenous Rights in the Shadow of Ibu Kota Nusantara https://journal.its.ac.id/index.php/jpr/article/view/8738 <p><span style="font-weight: 400;">The development of the new capital city, Ibu Kota Nusantara (IKN) presents an example of how land use changes and concessions for land spark conflicts between agencies that obtained concessions and indigenous communities who claimed the land as theirs. Due to the land acquisition process, local communities have voiced concerns over the lack of transparency, consultation, and formal recognition of their land rights. The existing control mechanisms are still deemed weak. Thus, this research aimed to analyze the existing control mechanisms and formulate recommendations to improve them. To achieve this, policy review and case study approaches were used. The analysis showed that there's limited legal recognition and protection, prioritization of national strategic projects, and inadequate compensation procedures in our existing framework. The case study result showed that legal victories and court judgments can affirm indigenous land rights, even though their practical implementation often faces delays and resistance. State prioritizations on developments is also a growing trend among many states. Those results identified three main problems: the absence of legal recognition for indigenous people and their ancestral lands, insufficient regulation of land acquisition planning concerning national strategic projects, the calculation and form of compensation. Incentives, zoning regulations, permitting system, and enforcement monitoring system in land acquisition procedures were recommended. These systems are hoped to be able to improve the control mechanisms of development in indigenous lands.</span></p> Holy Regina Hartanto Ariesta Bramantyo Syatya Putra Rabbayani Daniswara Nailah Fiorenza Fitriyah Copyright (c) 2025 Jurnal Penataan Ruang 2025-11-30 2025-11-30 20 2 135 146 10.12962/j2716179X.v20i2.8738 Stakeholder Study in the Development of a Sustainable and Disaster-Safe Colourful Tourism Village on the Brantas Riverbank https://journal.its.ac.id/index.php/jpr/article/view/7874 <p><em>The Colorful Tourism Village in Malang City is one of the tourism destinations located on the banks of the Brantas River. As one of the tourist attractions that many tourists visit, it is necessary to pay attention to stakeholders who can support the development of the tourism area. Understanding the role of each stakeholder is important because the area is located on the banks of rivers that are prone to various disaster threats. The purpose of this study is to identify the stakeholders involved, the role of each stakeholder and the relationship between stakeholders as well as supporting and inhibiting factors. The research method used uses a qualitative descriptive approach with data collection based on literature studies, documentation and observations. Based on the results of the study, it is known that the development of a disaster-safe Colorful Tourism Village on the banks of the Brantas River, Malang City involves various stakeholders with the concept of pentahelix, consisting of academics, business, communities, government and mass media. Each stakeholder involved is classified into primary, key and secondary stakeholders. The role of stakeholders is reflected in the role of policy creator, coordinator, facilitator, implementer and accelerator. The relationship between stakeholders is seen from the form and activity. There are several supporting and inhibiting factors in the development of the area.</em></p> Kevie Desderius Arief Hargono Aditya Prana Iswara Copyright (c) 2025 Jurnal Penataan Ruang 2025-11-30 2025-11-30 20 2 147 163 10.12962/j2716179X.v20i2.7874 Ekspansi Perkotaan di Surabaya Metropolitan Area: Alami atau Terrencana? https://journal.its.ac.id/index.php/jpr/article/view/4194 <p>Pertumbuhan kawasan metropolitan di Indonesia telah mendorong ekspansi wilayah perkotaan ke kawasan pinggiran, memunculkan fenomena suburbanisasi yang semakin intensif di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Suburbanisasi tidak sekadar mencerminkan pergeseran spasial akibat pertumbuhan penduduk, tetapi juga merupakan hasil dari kebijakan tata ruang yang secara aktif mendorong konversi lahan di pinggiran kota. Artikel ini menyoroti peran rencana guna lahan sebagai instrumen kebijakan yang berpengaruh dalam membentuk arah dan pola suburbanisasi, dengan fokus studi pada kawasan metropolitan Surabaya, khususnya Kabupaten Sidoarjo dan Gresik. Analisis spasial menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan terbangun dalam dua dekade terakhir mayoritas terjadi pada zona permukiman yang telah ditetapkan dalam RTRW kabupaten, mengindikasikan adanya kesesuaian antara rencana dan realisasi pembangunan. Namun, kesesuaian ini justru mengungkapkan bahwa rencana tata ruang lebih banyak berperan sebagai fasilitator ekspansi daripada sebagai alat pengendali pembangunan. Akibatnya, suburbanisasi di kawasan ini berlangsung secara fragmentaris dan tidak selalu diiringi oleh penyediaan infrastruktur yang memadai maupun integrasi spasial yang baik. Temuan ini mendukung pandangan bahwa suburbanisasi di Indonesia merupakan hasil dari proses politik dan ekonomi yang disengaja, bukan semata-mata akibat dinamika pasar. Artikel ini merekomendasikan perlunya pendekatan perencanaan yang lebih strategis, integratif, dan kritis terhadap tujuan zonasi, agar perencanaan tata ruang dapat berfungsi sebagai instrumen pembangunan yang adil dan berkelanjutan.</p> Belinda Ulfa Aulia Copyright (c) 2025 Jurnal Penataan Ruang 2025-11-30 2025-11-30 20 2 164 173 10.12962/j2716179X.v20i2.4194 Studi Perubahan dan Perkembangan Lahan Berdasarkan Pendekatan Land Use Transport Interaction (LUTI) di Kota Padang Menuju Kota Metropolitan Tahun 2043 https://journal.its.ac.id/index.php/jpr/article/view/8741 <p>Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan perubahan dan perkembangan penggunaan lahan di Kota Padang menuju kota metropolitan tahun 2043 dengan menggunakan pendekatan <em>Land Use–Transport Interaction</em> (LUTI). Pendekatan ini digunakan untuk memahami hubungan timbal balik antara dinamika penggunaan lahan dan sistem transportasi dalam membentuk pola perkembangan spasial kota. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deduktif dan metode kuantitatif berbasis data spasial dan statistik. Analisis perubahan lahan dilakukan menggunakan klasifikasi terbimbing (<em>supervised classification</em>) dengan metode <em>Maximum Likelihood Classification</em> terhadap citra satelit Landsat 8 multitemporal tahun 2013–2023 yang divalidasi melalui uji akurasi <em>confusion matrix</em>. Faktor pendorong perubahan lahan dianalisis menggunakan <em>Geospatial Multi-Criteria Analysis</em> (GMCA) melalui tahapan <em>euclidean distance</em>, <em>fuzzy logic</em>, dan <em>weighted sum</em> untuk menghasilkan peta probabilitas spasial perubahan lahan. Selanjutnya, simulasi perubahan dan perkembangan lahan hingga tahun 2043 dilakukan menggunakan <em>Land Change Modeler</em> dengan pendekatan <em>Markov Chain</em> dan <em>Cellular Automata</em> berbasis <em>Multi-Layer Perceptron</em>. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan signifikan lahan terbangun pada periode 2013–2023 yang diprediksi akan terus berkembang dan menyebar ke wilayah pinggiran kota, terutama di Kecamatan Koto Tangah, Kuranji, Pauh, dan Lubuk Kilangan, yang mencerminkan kecenderungan suburbanisasi. Pendekatan LUTI terbukti mampu mengidentifikasi pola dan arah perkembangan kota secara spasial serta berfungsi sebagai dasar preventif dalam perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menyiapkan Kota Padang menuju Kota Metropolitan yang terintegrasi dan berkelanjutan.</p> Alkinol Farezki IB Ilham Malik Valendya Rilansari Copyright (c) 2026 Jurnal Penataan Ruang 2025-11-30 2025-11-30 20 2 174 192 10.12962/j2716179X.v20i2.8741 Keterkaitan Kota-Desa antara Kota Mojokerto dengan Wilayah Peri Urban di Kabupaten Mojokerto berdasarkan Pergerakan Orang https://journal.its.ac.id/index.php/jpr/article/view/8808 <p>Penelitian ini mengkaji keterkaitan kota-desa antara Kota Mojokerto dan wilayah peri urban di Kabupaten Mojokerto. Tujuan analisis ini yaitu untuk mengetahui bagaimana keterkaitan kota-desa berdasarkan pergerakan dari orang. Analisis yang dilakukan ini meliputi analisis skoring dan analisis <em>origin-destination</em>. Analisis tipologi wilayah menggunakan skoring menunjukkan dominasi rural peri-urban, dengan area peri-urban primer dan sekunder terkonsentrasi di perbatasan dengan Kabupaten lain yang mana bisa disebabkan karena adanya pusat aktivitas di daerah perbatasan tersebut . Pada analisis <em>origin-destination</em> didapatkan bahwa keterkaitan kota-desa berdasarkan tujuan perjalanan orang ke wilayah peri urban yakni dengan tujuan wisata dan bekerja. Sementara, pada tujuan perjalanan orang ke wilayah urban yakni ditunjukkan dengan tujuan perjalanan belanja. Penelitian ini menemukan bahwa adanya perbedaan tujuan perjalanan orang ke wilayah urban dan wilayah peri urban. Hal ini mengindikasikan bahwa tujuan perjalanan orang ke wilayah peri urban dan urban dilandasi oleh alasan perjalanan yang berbeda. Dari adanya keterkaitan kota-desa yang terjadi antara wilayah urban dan wilayah peri urban di Mojokerto diharapkan pemerintah daerah dapat merumuskan kebijakan yang responsif terhadap dinamika wilayah peri-urban sehingga tidak terjadi ketimpangan antara wilayah urban dan wilayah peri urban.</p> Belinda Ulfa Aulia Revina Denys Safitri Copyright (c) 2025 Jurnal Penataan Ruang 2025-11-30 2025-11-30 20 2 193 204 10.12962/j2716179X.v20i2.8808