Pelatihan Refinishing Kulit Kaku dan Kulit Berjamur di Kelompok Pengrajin Kulit Setyo Rukun, Manding, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Penulis

  • Atiqa Rahmawati Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Nais Pinta Adetya Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Fadzkurisma Robbika Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Naimah Putri Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Dwi Wulandari Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Sofwan Siddiq Abdullah Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Heru Budi Susanto Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Nurwantoro Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Muhammad Asfan Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
  • Dina Mariana Uli Lubis Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit, Politeknik Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Kata Kunci:

Kulit kelinci, Penyamakan, Penyamakan berbulu, Tanning Kromium, Kulit Berjamur, Kulit Kaku

Abstrak

Pandemi Covid-19 memiliki dampak terhadap berbagai sektor termasuk industri kulit. Kulit tersamak yang telah melalui proses finishing, seringkali mengalami penurunan kualitas akibat penyimpanan yang tidak standar. Kulit samak sebelum digunakan sebagai bahan produk kulit disimpan dalam ruang penyimpanan atau gudang dalam jangka waktu yang lama. Semakin lama kulit tersebut akan menumpuk, ditumbuhi jamur, dan timbul bau yang tidak sedap. Hal ini menimbulkan defek dan menyebabkan turunnya kualitas kulit. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat ini diadakan untuk memberikan pengetahuan dan pelatihan tentang perawatan dan penyimpanan kulit dan produk kulit di Kelompok Pengrajin Kulit Setyo Rukun Manding. Metode kegiatan pengabdian masyarakat dimulai dengan observasi masalah, melakukan FGD dengan stakeholder, perumusan solusi dengan tim, persiapan alat dan bahan, pelaksanaan kegiatan, serta pelaporan kegiatan. Kegiatan pengabdian berupa pelatihan dan pendampingan dibagi menjadi beberapa porsi kegiatan, yaitu 60% praktek perbaikan kulit berjamur dan kulit kaku, 20% penyampaian teori, 10% diskusi dan 10% evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan melihat hasil perbaikan kulit berjamur dan kulit kaku. Hasil kegiatan pengabdian yaitu didapatkan formulasi untuk mengatasi kulit kaku maupun kulit berjamur di Sentra Kulit Setyo Rukun, Manding. Hasil evaluasi kulit kaku yaitu dengan pengujian kelemasan kulit. Kelemasan kulit meningkat sebesar 0,6 mm dari kulit awal. Sedangkan hasil evaluasi kulit berjamaur yaitu tidak tumbuh jamur pada kulit setelah diinkubasi selama 48 jam.

Unduhan

Diterbitkan

2024-11-03

Cara Mengutip

Rahmawati, A., Adetya, N. P. ., Robbika, F., Putri, N., Wulandari, D., Abdullah, S. S. ., … Lubis, D. M. U. . (2024). Pelatihan Refinishing Kulit Kaku dan Kulit Berjamur di Kelompok Pengrajin Kulit Setyo Rukun, Manding, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sewagati, 8(5), 2080–2090. Diambil dari https://journal.its.ac.id/index.php/sewagati/article/view/1804

Terbitan

Bagian

Articles

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama